Friday, January 16, 2009

Waktu sejauh hidup

Saat awan kelabu datang menghampiri,
Belum pasti hujan datang kesini…
Layaknya harapan yang tercurah
Belum tentu mendatangkan kenyataan untuk kita…

Sunyi di ruang fana, terbaring tak berdaya…
Lambat laun, dalam waktu yang mengalun,
Terbuai serasa waktu berlalri,
Ia yang tersiksa, serasa waktu duduk bersila…
Sunyi di ruang hampa, menunggu nasib dan derita…

Hari ini kita berlari bersama, waktu…
Mungkinkah esok akan engkau pergi?
Tidak menungguku yang berlari bersamamu hari ini?

waktu….waktu…sia-sia ku berbicara denganmu..
Telinga tak kau punya,matamu buta…
Hanya dapat membuat menderita…

untitled

Dimanakah cahaya wajahmu??
Saat malam- malam bercerita tentang indahnya rembulan,
Saat senja- senja berpuisi tentang megahnya sang surya

Berapa purnama harus kuterpa?
hingga pudar temaram wajahnya,
dan kembalinya binar matanya pada sang pemuja

bilakah kau berhenti berlari,
jikalah aku tlah kembali dari tiada samudera,
dan kupijakan kakiku di kaki2 benua?
Ataukah kembali engkau pergi dan aku tetap berdiri?

Saat ku terdiam melihat kau tak terjamah,
Dengan sayu senyuman yang tak kunjung tiada,
Menunggu bayangmu yang tiada berubah di palung cinta

untitled

Dan didalam bayang- bayang jiwaku, aku bertekuk lutut di hadapanmu,
Mengakui kuasa pesona jiwamu, aan mengagumi pancaran matamu
Lalu kupuja dirimu dengan darah di lidahku , dan kucintai engkau dengan luka jiwaku

Kudapati langkah kakiku, pada jalur gelap yg membawaku pada pilu pedih penderitaan,
Menyayat sebelah jantungku,
yg mengibaratkan kasih sebagai sebilah pemancung,
meluapkan derita- derita yg terpenjarakan

Kau bimbing diriku pada jalan penderitaan, yg jalannya terhampar kebun mawar,
Yg langitnya dikuasai oleh pangeran malam yg memuja permaisurinya.
Kau bimbing langkahku kepada terang yg memudar,
yg perlahan menggelapkan arahku, Membiarkanku tersesat di lorong yang tak berujung.

Kemudian sajak inipun terukir di dinding2 hatiku,
Dengan pahat yg kau genggam erat2 penuh harapan,
Harapanku, yg kau rampas dan tak tergantikan

Ujian, tragedi HP

Jumat, 16 Januari 2009..Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang biasa2 saja buat saya..saya bangun sebelum matahari menampakan cahayanya, dan harus berangkat ke sekolah saat mata masih berat. Tidak ada yg istimewa hari ini kecuali acara pelantikan pengurus OSIS 2009/2010 yang dilaksanakan di aula. Itupun bukan sesuatu yg spesial buat saya, toh saya bukan pengurus OSIS di sekolah. Acara pun selesai, dan dilanjutkan dengan jam pelajaran monoton seperti biasa.

Jam pelajaran pertama pun dimulai. Pelajaran sejarah. Hari ini kita mengulas perang dunia pertama, Jerman dan Italia. Cerita tentang Jerman ditutup dengan kisah serang Yahudi yg keluar dari kamp konsentrasi di Polandia saat kekuasaan Adolf Hitler berakhir. Saat itu, menurut guru saya, akan sangat janggal untuk menemukan seorang Polandia yg akan membantu orang Yahudi. Namun semuanya seakan2 terpatahkan dalam perjumpaannya dengan seorang pemuda Polandia. Pemuda itu mengerti keadaannya dan dengan tulus membantunya. Dengan uang yg mampu ia berikan, ia memberi harapan kepadanya untuk kembali ke tanah perjanjian. Bertahun2 telah lewat setelah kejadian itu. Mungkin ia telah melupakannya sebelum akhirnya ia melihat pelantikan Paus Yohanes Paulus II, dan ternyata yg ia lihat adalah sosok yg menolongnya di Polandia, Karol Wojtyla.

Cerita itu benar2 membuat saya ingin menjadi orang baik sepertinya, memiliki hati yg tulus dan kemanusiaan yg tinggi. Namun perasaan itu hilang seiring berjalannya detik2 waktu.

Keinginan sesaat saya tersebut mungkin akan baik jika bisa dijadikan tekad seumur hidup. Dengan kecerobohan saya yg begitu bodoh, saya pun menghadapkan diri saya pada satu kondisi yg mgkn saja bisa saya ambil hikmahnya.

Jam pelajaran telah usai saat saya akan pulang bersama teman saya. Wah ternyata papanya ga bs jmput, bannya diisengin orang. Jadilah kita naik bajaj k SMP buat ktemu bokapnya. Dalam bajaj, saat saya ambil hp, saya udah ada feeling ga enak. Seakan2 hp itu sebentar lagi bakalan hilang. Teman saya ini bawa cube, dan kita asik main itu. Feeling ga enak muncul lg tengah jalan saat saya liat hp. tapi emg saya ceroboh, meskipun saya udah peringatin diri saya, tetep aja kejadiannya terjadi. sampe di SMP, saya turun, baru temen saya turun. dia ga liat ada hp disitu. saat pintu ditutup, bajaj jalan, baru deh, saya sadar hp saya jatoh. tapi smuanya udah telat
^^
tadinya kita mau naik bajaj harganya ceban, tapi saya ga tega, akhirnya kita kasih 12rb. Hm, agak kesel kalo dipikir2, duah baik2 kasih lebih, eh Hp malah ilang, dmana keadilan..ya memang belum tentu si supir yg ambil, rasanya mgkn penumpang setelah kita. setelah saya telpon berkali2 dan mengajukan penawaran lewat sms, akhirnya hpnya dimatiin, yg artinya, selesai sudah.

Kalo saya mau jadi orang seperti Karol Wojtyla, mungkin kesal, dengki, dendam, tidak rela akan kejadian tadi bukanlah suatu sikap yg tepat. Dari sini saya belajar untuk merelakan apa yg telah terjadi. Saya berdoa kepada Tuhan tentang bagaimana saya mengharapkan HP itu bakal balik, tp sekali lg saya harus meykinkan diri bahwa rencana Tuhan akan indah pada waktuNya. Toh smua ini memang salah saya.hehe. Saya harus merelakan apa yg telah terjadi, bukan membenarkan kecerobohan saya, tetapi merelakan apa yg tidak akan kembali kepada saya. saya berharap yg mendapatkan hp itu adalah orang yg benar2 membutuhkan. saya berharap HP itu bisa jadi berkat buat dia...yah, semoga saja...=)